Hindari Stres Finansial

Ada waktu setiap pukul sembilan malam saya rebahan di atas kasur. Tanpa sprei. Jari menggulir aplikasi pencatat keuangan minggu ini di ponsel. Kepala saya berat. Pengeluaran aktual melebihi ekspektasi pengeluaran mingguan. Apa yang salah?


Uang tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi ketidakadaan uang dapat meniadahadirkan kebahagiaan,

kira-kira seperti itu yang saya amini. Tidak harus berada di puncak kritis, kehilangan pekerjaan atau rugi dalam suatu proyek, hal kecil mengenai uang pun terkadang bisa membuat stres. Tanpa skenario khusus, berikut adalah cara saya menghindari stres tentang keuangan pribadi saya. Dan ini berkerja baik untuk saya.

Satu atau dua tabungan adalah cukup.

Memiliki banyak layanan tabungan tidak membantu saya dalam mengelola arus kas. Sebutuh apa memiliki satu tabungan untuk satu peruntukkan. Pengelolaan uang dilakukan berdasarkan nominal rupiah yang saya miliki, bukan jumlah buku tabungan. Ruang penyimpanan dokumen penting bertambah sempit, dompet pun bertambah tebal. Oleh kartu ATM tok.

Hal ini juga membantu saya… em, meringankan pikiran saya. Saya tidak harus bingung memutuskan untuk tarik uang di tabungan yang mana, dan beri banyak nomor rekening ke klien.

Saat ini saya hanya punya dua tabungan aktif. Tabungan digital sangat membantu saya dalam aktivitas keuangan sehari-hari. Bahkan, layanan tabungan digital yang saya gunakan bisa digunakan di seluruh atm. Tabungan konvensional saya gunakan saat membutuhkan hal terkait buku tabungan. Itupun gak ada isinya. Jika saya punya pendapatan lebih, akan dibelanjakan reksadana.

Jika gaji tidak melebihi 2x UMR, tidak bijak memiliki kartu kredit.
Gaya hidup Anda harus mengikuti pemasukkan. Saya percaya kekayaan seseorang bukanlah dilihat dari berapa banyaknya uang yang dia dapat, melainkan bagaimana dia menggunakan uang tersebut. Apakah mengeluarkan seperlunya, atau lebih memilih membelanjakan hampir seluruh uangnya.
Tidak memiliki kredit adalah bijak, khususnya untuk pribadi seperti saya — ‘orang kaya’ yang sederhana.

Bagi beberapa orang, kartu kredit sangat membantu aktifitas pengeluaran mereka. Tidak sedikit pula layanan kartu kredit memberikan promo diskon jika melakukan pembelanjaan khusus. Lalu mengapa saya memilih tidak memiliki kartu kredit?

oleh Helloquence

Saya merasa cukup dengan manfaat dari kartu debit. Saya takut membelanjakan uang yang belum tentu saya miliki. Lagipula saya merasa lebih nyaman dengan tidak memikirkan tanggal jatuh tempo, hitung-hitungan bunga, bahkan potongan harga kalau ada. Ribet.
Katakanlah, saya bisa melakukan pelunasan sebelum jatuh tempo. Apa bedanya dengan kartu debit? Tapi kan ada promonya. Saat itu, saya harus..

tutup mata akan diskon dan promo.
Saya memberi nilai terhadap barang diskonan biasanya bias. Walaupun barangnya masih baik dan bisa digunakan normal, kecendrungan menggantinya dengan barang baru masih ada. Toh barang diskonan ini. Nggilani.

Akhirnya membeli barang yang baru. Diskonan lagi. Siklus itu akan terus terjadi saat tidak bisa menentukan pengeluaran prioritas. Bikin kesal sendiri. Stres sendiri.

Jika aku tidak punya cukup uang untuk membeli suatu barang yang sama dua buah, aku tidak akan membelinya.

Tidak membuat perencanaan yang terlalu spesifik.
Kecuali saya punya kemampuan seorang ekonom, perencanaan yang terlalu spesifik membuat saya stres. Kedisiplinan mengatur arus kas menjadi terpaksa dan berkurang karena terlalu malas untuk tetap berpegang pada rencana. Hal ini saya siasati dengan menyederhanakan kategori pengeluaran.

Saya memiliki tiga kategori besar untuk pengeluaran, yaitu 1) pengeluaran pribadi yang terdiri dari biaya makan, alat mandi, tagihan operator telpon, dll; 2) pengeluaran pokok seperti token listrik, pajak, merawat sepeda motor, dan wujud lain dari apresiasi aset yang saya miliki, merawatnya; 3) tabungan dan atau investasi. Ya, baik tabungan dan investasi merupakan pengeluaran.

Namun, tidak ada yang lebih baik dari berhemat.
Jika terjadi minim pengeluaran, apa harus merasa cukup dengan pengeluaran saat ini atau mengejar sesuai rencana pengeluaran? Ini adalah seni yang saya pribadi rasakan dalam mengatur keuangan sendiri. Saya bisa merasakan keleluasaan dalam menggunakan uang saya jika saya hemat sepanjang bulan. Mengalihkan dana lebih untuk menambah tabungan atau dihabiskan adalah preferensi masing-masing mengingat kebutuhan.

Saya sepakat disiplin mengelola uang adalah baik. Untuk personal, maupun keluarga. Tapi saya percaya manusia diciptakan tidak hanya berkutat dengan hal seperti itu. Tidak ada yang lebih membantu saya selain menanam rasa cukup atas apa yang saya miliki saat ini. Saya harap, begitupun dengan Anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: